Pendidikan Tinggi Bukan Untuk Orang Miskin?
Kali
ini saya hanya akan memforward sebuah pesan email dari seseorang teman. Dari
pesan yang dia kirim, tampak sekali bahwa dia sangat kecewa dengan cara-cara
intitusi pendidikan dalam mendapatkan uang. Berikut kita simak pesannya yang
panjang itu.
………………………………………
Kejadian
saat mengantar keponakan untuk mendaftar di D3 Universitas Padjajaran, sebuah
Universitas Negeri di Bandung. Tanggal 22 Agustus adalah batas akhir
pendaftaran. Karena tidak bisa membayar full maka kami memasuki sebuah ruangan
yang di sebut ruangan untuk mahasiswa “kasus”. Dan disana berjejal puluhan
mungkin ratusan orang tua dan calon mahasiswa yang mempunyai masalah keuangan.
Untuk
sebuah Universitas negeri bea kuliah di sana sangat mahal, D3 MIPA total lebih
dari 8 juta, ekonomi hampir 9.5 juta, malah ada yang sampai 10 juta. Tidak
hanya sampai itu saja, yang sangat menyesakkan hati adalah tidak ada tolenransi
sama sekali, uang pengembangan memang bisa di cicil itupun hanya 2 bulan sampai
September sejumlah 4.5 juta. Seorang ibu meminta penundaan pembayaran sampai
keesokan harinya, panitia menolak tegas. Harus hari ini. Penundaan yang cuma
satu hari saja di tolak tegas. Dengan sedih ibu dan anaknya itupun pulang.
Bagaimana
ini? Bukankah seharusnya universitas negeri tidak boleh menolak calon mahasiswa
yang sudah lulus test dengan susah payah? Bila ada alasan karena sudah
mendaftar seharusnya orang tua sudah siap dengan keuangan, masa tidak ada
toleransi sama sekali? Bukankah seharusnya panitia bertanya dulu apa kesulitas orang tua tersebut tidak langsung menolak
dengan tegas. Jangan katakan bahwa ibu itu harus mencari sekolah yang lebih
murah. Ini universitas negeri, kepunyaan rakyat bukan milik orang perorang atau
penguasa Unpad!!! Siapapun yang telah lulus test berhak kuliah. Malasah keuangannya
seharusnya dipikirkan bersama, masa minta penundaan satu hari saja ditolak?
Dengan
alasan perubahan BHMN maka semua universitas diperbolehkan berlomba2
mengumpulkan sumber pendapatan tanpa ada toleransi sama sekali? Bukankah telah
diperbolehkan pula mengumpulkan dana dari mahasiswa jalur khusus dengana
ratusan juta uang pengembangan? Kenapa tidak dibuat subsidi silang yang mampu membantu yang tidak mampu?
Bagaimana
ini manajemen universitas? Seharusnya dengan kondisi negeri kita seperti ini
harus ada antisipasi penyelesaiain. Bagaimanapun ini adalah tanggung jawab
bersama bukan hanya orang tua saja. Apakah antisiapsi penyelesaian dengan
spanduk besar2 pinjamana kredit tanpa agunan dari Bank Mandiri, apa ini
menyelesaikan masalah? Orang tua yang untuk makan sehari saja kesulitan disuruh
berutang? Bukannya malah menambah beban masalah? Negara apa ini? Benar2
menjerumuskan rakyatnya kedalam kemiskinan yang makin dalam.
Kenapa
tidak diantisipasi dengan sponsor beasiswa? Dari perusahaan, industri, badan
zakat atau alumni? Dari pemerintah atau Manajemen Qolbunya Aa Gym misal?
Membuka perwakilan di universitas saat penerimaan mahasiswa baru. Kemudian
diseleksi saat itu oleh pembuat keputusan? Apa terlalu sullit? Seperti kejadian
di Universitas indonesia untuk fakulas kedokteran beberapa mahasiswa yang tidak
mampu mendapat beasiswa dengan hanya membayar 2 juta atau dibebaskan dari aung
kuliah. Kenapa tidak di ikuti oleh universitas lain?
Apa
kita harus diam saja? Tidak berbuat apa-apa? Atau seharusnya saya waktu itu
pake T shirt dengan sablonan “
Orang Miskin Dilarang Sekolah” ya? Biar kerja panitia jadi ringan?
………………………………………………………………..
Aneh
memang pemerintahakan kita ini, negara – negara maju di Eropa habis-habisan
mensubsidi pendidikan, hingga membebas beakan pedidikan dari TK sampai
Universitas, Jerman misal atau Swedia, di Indonesia subsidi itu malah dicabut,
tau alokasinya buat apa lagi. Buat alokasi dana sunat supaya tambah gede kali
ya?
Yang
bikin tambah jengkelnya dengan percaya diri pemerintah mengopinikan masyarakat
kalo mereka masi care dengan pendidikan kita, kampanye wajib belajar 9 tahun,
ada dana Biaya Operasional Pendidikan (BOS) “sembari” dana tersebut biasanya nominalnya dari anggaran besar, sampe
ke penerima jadi kecil karena “nyangkut” disana – sini.
Leuheung
mahalnya pendidikan di indonesia itu berbanding dengan kualitasnya lembaga
pendidikannya dalam mengupgrade, kualitas lulusannya, da inimah yang
mahal-mahal itu namanya ga nongol di 100 besar universitas se-asia gitu… apa
lagi dunia…….. your face is too far, just go to the ocean……………………………………… ( muke
lo jauh, kelaut aje……………………….)….

Recent Comments